: :
2319519166492755209

Navbar Bawah

Cari Blog Ini

Rabu, 08 Agustus 2012

Hikmah Dibalik Musibah

MUSIBAH MERUPAKAN BATU UJIAN UNTUK MENGUKUR KADAR KEIMANAN SORANG MU’MIN

Tidak selamanya  perjalanan hidup kita itu mulus, menyenangkan dan menggembirakan. Terkadang kita harus melalui ujian berat yang menyesakkan. Tak ubahnya laksana perjalan kita di muka bumi ini, tidak selalu jalan itu lurus, halus dan berhiaskan bunga-bunga mekar yang indah, melainkan sekali-kali  kita harus berjalan di atas jalan yang terjal, berhiaskan duri  yang menusuk  sekujur tubuh.   Namun untuk mencapai sebuah tujuan yang kita harapkan, perjalan itu pun harus terus kita lanjutkan. 
Firman Allah dalam Surat AL Baqoroh ayat 155:

155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
 

156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali)

Seberat apapun mushibah bagi seorang yang beriman, taidak lepas dari ujain Allah untuk menguji seteguh apakah keimanan yang dia miliki. Apakah imannya akan rapuh dengan sebuah ujian kecil saja, atau akan semakin kuat. Lihat  FIrman Allah  dalam Surat Al Ankabut ayat 2:


Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?

Dalam terjemahan bebasnya bisa kita katakan, apakah orang yang mengatakan beriman itu tidak akan diuji oleh Allah? Kalimat ini adalah kalimat retoris yang jawabannya pasti sudah lebih dahulu diketahui. Seperti seorang guru berkata kepada muridnya, “Apakah dengan mencoret-coret dinding itu pemandangan kita menjadi indah?” Jawabannya kita  sudah tahu semua, pasti tidak.

Apabila musibah yang berupa ujian itu diterima dengan keimnan dan kesabaran, maka di balik musibah itu akan ada hikmah yang dirasakan. Pada waktu gunung  api meletus, mengeluarkan batu-batu besar, kerikil-kerikil tajam, lahar dan awan panas, semua merasakan bahwa itu adalah bencana besar. Namun setelah gunung itu berhenti, susana menjadi tenang, tanah menjadi subur, batu dan pasir bersebaran di mana-mana, mudah didapat sebagai bahan bangunan.  Inilah musibah yang membawa hikmah.

Sebingkah cincin emas yang indah melingkar di jari manis si  gadis jelita, dia telah melewati berbagai ujian. Dia pernah digiling, dibakar, ditempa, dipukul, akhirnya dia berada pada tempat yang menyenangkan. Begitu pula hidup kita.  Untuk mewujudkan sebuah cita-cita, kita perlu perjuangan dan pengorbanan. Karena cita-cita tanpa perjuangan, hanya akan menjadi sebuah impian yang jauh dari kenyataan.

Marilah kita perhatikan sejarah kehidupan Rosulullah Muhammad s.a.w. Beliau lahir dalam keadaan yatim, pada usia enam tahun sang ibu yang dicintai juga meninggal dunia, lalu beliau berada dalam pengasuhan Abdul Mutholib, sang kakek. Tak lama kemudian sang kakek juga wafat, beliau berpindah di bawah pengasuhan pamannya, Abu Thalib. Tapi sang paman pun kemudian  wafat ketika perjuangan Rosulullah menyebarkan Islam masih belum selelsai.

Beliau dibenci dan dicaci bukan karena perbuatannya yang tidak terpuji, bahkan semua mengakui bahwa beliau adalah pribadi yang terpuji sehingga dijuluki "Al Amin" yang artinya pribadi yang terpuji. Beliau dicaci karena keberaniannya mengubah pola pikir masyarakat jahiliyah penyembah berhala, untuk beritikad bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
Inilah missi yang diperjuangkan oleh Rosulullah dengan rela berkorban, rela hidup menderita, demi mewujudkan cita-cita mulia. Berkat keteguhan dan keuletannya dalam perjuangan, maka Islam sekarang berkibar di muka bumi Allah SWT.

0   komentar

Cancel Reply